090. ISO 100 dan Nexus 4!

Setelah menghabiskan beberapa waktu dan menemukan bahwa ISO dari kamera HP saya amat membuat para fotografer frustasi. Suatu Pagi , Sayapun iseng memotret anak kucing yang sudah dilepas induknya untuk hidup mandiri dan berkeliaran di kecamatan Coblong.

Akhirnya bisa juga ISO 100! hasilnya mantap kan? penuh detail dan teksture
Akhirnya bisa juga ISO 100! hasilnya mantap kan? penuh detail dan teksture. Sehingga lebih hidup dan detail.
ini nih bukti otentik
ini nih bukti otentik bahwa mukjizat itu nyata! bisa ISO 100 men!

Hasilnya tak ku kira tak kusangka! Nexus 4 berhasil memakai ISO 100! Hasilnyapun tajam. #tesss… Mau nangis melihat pencapaian HP ini. Seandainya rentang ISO kamera ini bisa 100-800 maka sempurna sudah kamera HP ini (selama objeknya tidak bergerak). Dalam foto ini saya tidak memakai mode HDR dan sama sekali tidak di edit. Picture sizenya pun hanya 3 Mega Pixel. Semoga Google memproduksi Nexus selanjutnya di pabrikan yang mumpuni dalam; membuat produk tahan banting, kamera yang tajam dan, suaranya yang jernih membahana yaitu Nokia. #yakaleeee

Advertisements

089. Ray Ban dan Nexus 4!

Masih menyiksa dan bereksperimen dengan kamera Nexus 4. Setelah menemukan hasil yang buruk pada tulisan kemarin. Sayapun berkesperimen lagi. Salah satu cara terbaik untuk mengetes bagus atau tidaknya kamera (terutama sensor warnanya) adalah dengan memotret pada saat Golden Hour! Terutama saat-saat penghabisan sore hari(sunset) dan awal-awal pagi (sun rise). Disana warna lagit yang gelap sekali dan cahaya terik yang kontras akan tertangkap kamera. Lalu bagaimana dengan Nexus 4? Cekidot!

2013-08-31 23.26.46
Sun rise at Jakarta
2013-07-28 23.33.45
Dawn of the dread
2013-07-28 23.22.20
Sore hari di Plesiran

Ternyata foto-fotonya memiliki ISO 1400-1700’an (Padahal kan bisa ISOnya 400 tapi exposure diperbesar dan shutter speed diperlambat ) Tapi ya karena penentuan ISO otomatis ya, saya terima-terima saja. Setelah diedit dengan program di gallery Nexus 4 hasilnya tidak begitu mengecewakan. Setelah saya edit loh ya.

Setelah beberapa hari bereksperimen sayapun mendapatkanj suatu kesimpulan. Kamera HP ini ternyata diprogram untuk mendapatkan warna pada foto sebanyak-banyaknya makanya, dia mementingkan ISO dan mengorbankan ketajaman foto. Sehingga waktu di edit warnanya bisa dimainkan/diatur lebih flexibel. Tapi jangan coba-coba memotret dengan cahaya rendah/gelap yah! Nanti kayak seperti ini .

088. Ucu dan Nexus 4!

Beberapa hari yang lalu saya sedang iseng mengetes kamera di HP Saya ini. Model yang saya gunakan adalah burung kutilang peliharaan saya yaitu si Ucu (sejak kelas 2 SD loh).Secara fisik saya lihat kamera HP saya,Tulisannya sih 8 Megapixel tetapi apa benar? Sebagai desainer+fotografer saya pun mengetesnya dari berbagai aspek. Ternyata eh,ternyata kamera adalah salah satu kelemahan HP ini. Setelah beberapa kali memotret sayapun menghasilkan foto yang mengecewakan padahal sudah saya setting :

  1. Picture size: 8 Mega Pixel
  2. White balance auto atau dibuat fix ( daylight/cloudy)
  3. Tidak memakai scene mode
  4. Exposurenya 0 atau seimbang gelap terangnya.

Menurut Saya settingan ini seharusnya menjadikan foto tajam. Sayangnya foto yang dihasilkan kebanyakan foto yang grainy/banyak titik-titik warna tidak jelas. Setelah saya liat file Infonya ternyata salah satu kendala dan kelemahan Kamera+applikasi camera Nexus 4 ini adalah tidak bisanya kita mengatur ISO secara manual. Pantes aja jelek!

Ini nih hasil mentah dari jepretan Nexus 4. Warna kurang menarik dan tidak fokus karena ISOnya 1400 :-(
Ini nih hasil mentah dari jepretan Nexus 4. Warna kurang menarik dan tidak fokus karena ISOnya 1400. Sering sekali pendapatkan hasil foto seperti ini . ISONya tinggi sehingga banyak grain dan ga jelas hasilnya 😦

Kelemahan kedua adalah Auto fokusnya yang buruk. Cara terbaik mengetes auto fokus dan sensor warna pada kamera adalah dengan menjepretkannya ke objek yang berwarna putih. Kali ini saya jepretkan ke bulu dad si Ucu. Ternyata hasilnya adalah ga fokus. Kebanyakan blur. Sayapun bereksperimen gimana sih cara dapet gambar yang fokus, tajam dan bagus. Setelah 1 jam lebih mengulik saya tidak menemukan rumusnya. Beberapa foto bagus namun kebanyakan hasilnya grain karena ISOnya yang diatur HP besar-besar (Paling sering ISOnya 1700,  Paling kecil ISOnya 400).

Sulit sekali mendapatkan hasil foto yang fokus seperti ini. ISO foto ini 400. Lumayan lah :-)
Sulit sekali mendapatkan hasil foto yang fokus seperti ini. ISO foto ini 400. Lumayan lah. Lihat kualitas dari ketajaman dan detail dari bulunya. beda banget kan? padahal dipotret dengan kamera HP yang sama dan diwaktu yang hampir sama  🙂

Setelah sejam bereksperimen,Sayapun mencoba dengan mode HDR dan hasiiiilllnya? Sama saja buruknya L. Kayaknya perlu banget applikasi motret yang bisa ngatur secara manual ISO dari kamera HP. Mungkin inilah salah satu alasan kamera SLR tetap menjadi andalan. Memang betul kata pepatah: “Besarnya Mega Pixel tidak menjamin foto Anda tajam dan fokus+bagus.” Setelah capek memotret selama sejam sayapun pergi ke ruang makan dan makan Nastar . Akhirnya berat saya bertambah terima kasih klinik T*ng Fang!

087. Ajaibnya Motorola v3688e!

Ada yang tau Motorola v3688e? Salah satu telpon seluler Motorola yang flip dan dulu menjadi lambang telepon selular untuk para eksekutif muda. Bisa dibilang ini adalah engkongnya Motorola RAZR,heheh. Bentuknya yang flip,tipis (pada zamannya), elegan di sertai lapisan kaca serta kemampuan jaringannya yang dual band amat mumpuni.

Continue reading “087. Ajaibnya Motorola v3688e!”

086. Konsumen bukan raja!

Kita sering sekali mendengar ada jargon berkata “ konsumen adalah Raja”. Saya sendiri sebagai seorang desainer yang menerima proyekan dari  client dan memiliki konsumen yang menggunakan karya-karya saya tidak berpikir demikian. Menurut saya pemikiran “konsumen adalah Raja” sudah ketinggalan zaman. Kalau kita(khususnya Desainer) berpikiran seperti itu maka posisi kita akan selalu berada dibawah konsumen dan natur manusia susah sekali mengahargai orang yang stratanya lebih rendah.
Continue reading “086. Konsumen bukan raja!”

085. Marketing 3.0 at Travel Vaganza!

Travel vaganza bersama Pak Hermawan
Travel vaganza bersama Pak Hermawan

Tema tulisan ini adlaah bagi-bagi ilmu bisnis. Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam seminar Travelvaganza. Salah satu pembicaranya adalah pak Hermawan Kartajaya (CEO Markplus). Beliau adalah pakar marketing yang berpengaruh di Indonesia. Kalau saya sendiri melihatnya beliau lebih cocok jadi dosen sih,heheh. Di seminar itu saya belajar tentang Marketing 3.0. Apa sih itu? Marketing 3.0 sendiri dibagi menjadi 3 tahapan.

Continue reading “085. Marketing 3.0 at Travel Vaganza!”

084. Tyranny of thing’s called Urgent!

Dewasa ini ritme kehidupan berjalan semakin cepat.  Makin sering orang meminta sesuatu untuk dikerjakan sekarang dan deadlinenya ASAP(As Soon As Possible). Hal ini disebabkan oleh kondisi hidup masyarakat moderen yang menuntut kita untuk bekerja keras, cepat untuk mencapai banyak hal. Sebagai contoh anak-anak yang baru saja pulang sekolah sudah disuguhi berbagai les atau pelajaran tambahan. Saya sendiri mengalami hal tersebut sehingga, baru pulang ke rumah pada waktu malam. Kesibukan sungguh menyita dan mendikte hidup orang yang terjebak didalamnya.

Setelah saya teliti berdasarkan perilaku orang lain dan saya sendiri. Saya menemukan fakta bahwa ada suatu kebanggaan bila kita dalam kondisi sibuk. Sebagai contoh apabila ditanya “Lagi sibuk apa aja?” lalu kitapun menjawab dengan bangga “Duuuh, gue tuh sibuk banget. Sibuk ngejar deadline A,B,C, lima dasar ,dsb”. Banyaknya kesibukanpun sering sekali membuat kita kewalahan, kecapekan, melupakan hal yang sebenarnya lebih penting bagi hidup kita (contoh relasi dengan Tuhan, orang tua, saudara, anak,dll) dan bahkan saking banyaknya kesibukan kita panik sehingga, tidak mendapatkan satu pencapaian apapun.
Continue reading “084. Tyranny of thing’s called Urgent!”