KRAUKRAUKDI

Design, Technology, Art and Love for better Life


Leave a comment

436. Apa yang saya pelajari dari sepatu league? Jawabannya!

436. Apa yang saya pelajari dari sepatu league? Jawabannya! Sepatu Kumo

436. Apa yang saya pelajari dari sepatu league? Jawabannya! Sepatu Kumo

Beberapa minggu lalu, Saya menulis tentang kebingungan Saya terhadap produsen sepatu buatan Indonesia yang bernama League. Kebingungan Saya berfokus kepada produk sepatu lari League yang sol sepatunya kok banyak yang sama yah? Entah bagaimana cara, Tulisan itupun sampai kepada pihak League dan berikut ini jawaban dari pihak League yang diwakilkan mas Asep Hadian:

“Hi Arnold,

Mengenai outsole sepatu League beda model tapi outsolenya sama.
Idealnya seperti yang kamu sebutkan tiap sepatu punya outsole yang berbeda khususnya untuk mid to top price point, untuk entry level baik nike maupun adidas dan brand lainnya kamu akan menemukan hal yg sama seperti di sepatu League juga loh.

Okay, back to sepatu League yang outsolenya sama. Alasannya lebih ke masalah investment karena sepatu League belum masuk ke pasar global seperti brand2 di atas yang saya sebut dimana hanya mengandalkan pasar Indinesia dimana jumlah qty per modelnya yang terjual pun saat ini tidak bisa memenuhi minimum qty untuk invest satu jenis outsole.

436. Apa yang saya pelajari dari sepatu league? Jawabannya! ini dia nih sepatu lari Adidas ultra boost

436. Apa yang saya pelajari dari sepatu league? Jawabannya! ini dia nih sepatu lari Adidas ultra boost

Untuk lebih jelasnya ibaratkan adidas boost sekali order ke factory bisa sampe 500 ribu – 1 juta pasang di tahun tersebut bahakn bisa repet order bbrp kali meskipun dalam beberapa warna tapi dgn qty tersebut sudah memenuhi minimum qty investasi satu jenis outsole dibandingkan dengan sepatu League yang masih sangat jauh dari itu dan kalau mau mencapai qty tersebut dalam sekali order ke factory kita di tahun yang sama sangat tidak mungkin. ”

Terima kasih banyak atas mas Asep yang sudah memberikan pencerahan kepada Saya dan para pembaca. Semoga seiring berjalannya waktu, sepatu league bisa go internantional dan semakin baik dari masa ke masa. AMIN.


Leave a comment

435. Game Design: Dragons Rise of berk dari cinta jadi benci!

435. Game Design: Dragons Rise of berk dari cinta jadi benci!  Ini dia Green Death

435. Game Design: Dragons Rise of berk dari cinta jadi benci! Ini dia Green Death

Beberapa bulan ini ditengah banyaknya tugas menjelang lebaran, Saya menyempatkan diri untuk bermain game. Biasnanya sih bermain game di PC tapi, dikarenakan energi saat pulang ke rumah sudah minim jadinya main game di smartphone saja deh. Game yang saya mainkan di waktu senggang adalah DRAGONS: Rise of berk. Game besutan Ludia dan Dreamworks ini adalah game memelihara naga dan kota layaknya zoo tycoon. Game ini merupakan perpanjangan franchise dari How to train your dragons.

Continue reading


Leave a comment

434. User Experience and Big Data!

434. User Experience and Big Data!

434. User Experience and Big Data!

Dewasa ini, dimana kata ” Smart City” sudah semakin meraja lela dan di galakan di beberapa kota di Indonesia membawa istilah “Big Data” menjadi semakin populer. Organisasi seperti IBM, Toshiba, GE , Google dan beberapa perusahaan besar lainnya mulai menggalakan penggunaan Big Data untuk memecahkan segala jenis masalah. Sampai tulisan ini di buat, para perusahaan besar tersebut sebagian besar masih dalam tahap mengumpulkan Big Data.

Btw , apa’an sih tuh big data?

Big Data adalah sekumpulan data yang besar dan memiliki 3 ciri. Data-data tersebut merupakan data yang high volume, high value, dan Hight Variety. Itu artinya data yang kompleks, berguna bagi banyak pihak dan sangat amat bervariasi. Mirip-mirip Indonesia lah, Cieee…
Kalau saya ibaratkan, Big Data itu ibarat pasar induk. Dimana segala jenis barang di jual di dalamnya. Pasarnya amat padat, banyak penjual dan pembeli yang amat bervariasi. Dari jualan baju, sayur, ikan hias, elektronik, sabun mandi, keset, furnitur, kartu pokemon dan berbagai hal lainnya. Banyaknya variasi data ini sebenarnya menjadi kesempatan emas bagi para User Experience (UX) Designer dan developer.

Loh, kok bisa?

Data-data statistik ini kebanyakan disediakan secara gratis dan dapat di akses oleh orang awam dan dapat digunakan untuk memecahkan berbagai jenis masalah di dunia ini. Ibaratnya UX Designer adalah koki yang mau memasak Sayur asem maka, UX designer perlu mengambil asam, melinjo, lobak, cabe, dll. Kesemua bahan itu lalu di olah dan di jadikan sayur asem. Begitupula dengan Big Data, UX designer perlu memutuskan akan memecahkan masalah apa dan dari masalah itu kira-kira perlu data apa saja untuk dapat menghasilkan solusi atau paling tidak mempercepat proses penyediaan solusinya.
UX designer yang berkolaborasi para programmer baik front end dan Back End, terbukti dapat memecahkan masalah kekurangan stok obat dan vaksin malaria di Afrika sana dengan menggunakan Big Data. Di Indoensia sendiri pemerintah sudah membuka beberapa API juga untuk bisa di olah oleh UX designer dan para developer. Salah satu contoh yang lumayan heboh adalah kawal pemilu. Semoga lebih banyak lagi UX designer dan developer yang menggunakan Big Data untuk memecahkan masalah sosial yang terjadi di Indonesia. Merdeka!


Leave a comment

433. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

432. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

432. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

Go-jek adalah salah satu solusi transportasi di Jakarta. Menurut Saya ada tiga keunggulan dari layanan buatan Nadiem Makarim anak Indonesia yang kuliah di harvard ini. Keunggulannya antara lain:
1. Harganya yang relevan (karena kalau nawar dengan tukang ojek harganya suka gak tau diri)

2. Ojek yang mendatangi pelanggan (biasanya kan pelanggan yang ke pangkalan ojek )

3. Bisa bayar dengan Credits, artinya gak usah ribet-ribet bawa uang dan terkena konflik gak ada kembalian.

Dari ketiga keunggulannya tersebut Gojekpun menjadi fenomena tersendiri. Saya sebagai User Experience (UX ) Designerpun mencoba untuk mempelajari Go-jek ini. Bagi pengendara Gojek, dengan adanya layanan ini mereka mendapatkan peningkatan penghasilan yang signifikan dibandingkan dengan ngojek seperti biasanya. Kalau ngojek biasa, mereka lebih banyak mangkal di pangkalan dan maksimal hanya mendapatkan Rp 150 ribu perharinya.

Berbeda halnya dengan saat bergabung dengan Gojek, mereka mendapatkan rata-rata Rp 350 ribu perhari alias Rp 10 Juta perbulan. Naik drastis kan!?

Loh! kok bisa?

Continue reading


Leave a comment

432. Apa yang saya pelajari dari Assassins Creed Rogue!

432. Apa yang saya pelajari dari Assassins Creed Rogue!

432. Apa yang saya pelajari dari Assassins Creed Rogue!

Separah-parahnya Game pasti ada lah beberapa hal yang bisa dipelajari. Termasuk dari game Assassins Creed Rogue. Harus Saya akui bahwa, penokohan dari karakter utama Assassins Creed Rogue yaitu Cormac sangat kuat. Cormac sering sekali berkata ” I made my own luck“. hal ini sering sekali dia katakan setelah lolos beberapa kali dari ancaman bahaya. Pertanyaannya adalah:

Apakah Cormac seberuntung itu?

Setelah saya amati, ternyata Cormac memang “Mebuat” keberuntungannya sendiri. Setidaknya ada tiga hal yang membuat Cormac beruntun dan dapat diterapkan di dunia nyata.

  1. Persiapan. dalam setiap misinya Cormac selalu mempersiapkan dirinya entah dengan, menguping pembicaraan, mencari dokumen yang penting, atau menghubungi orang yang kredibel serta berhubungan dengan tugasnya. Selalu saja ada waktu untuk riset dan mempelajari misi yang akan dilaksanakan.
  2. Pantang menyerah. Dalam game Assassins Creed Rogue sering sekali, Cormac dijebak atau terkena rintangan sebelum menyelesaikan misinya. Entah dijebak racun, di kelilingi musuhnya, ataupun di jebak dengan bom di gua es. Sejatuh-jatuhnya Cormac, selmaa masih bisa bergerak maka ia akan terus maju dan terus berusaha. Begitu juga di dalam hidup, jangan sampai kena masalah sedikit lalu putus asa dan berhenti. Teruslah berusaha walhasil, kesuksesan akan diraih.

Walaupun secara grafik, alur cerita, gameplay dan pengembangan karakter game Assassins Creed Rogue terbelakang tapi, toh ada juga kan yang bisa dipelajari dari game ini. Semoga bisa menginspirasi.

432. Apa yang saya pelajari dari Assassins Creed Rogue! saking seringnya diomongin

432. Apa yang saya pelajari dari Assassins Creed Rogue! saking seringnya diomongin


Leave a comment

431. Assassins Creed Rogue Review PC!

431. Assassins Creed Rogue Review PC! Pada kenyatannya sih si karakter utama jarang pake Hood nya

431. Assassins Creed Rogue Review PC! Pada kenyatannya sih si karakter utama jarang pake Hood nya

Di libur lebaran kemarin, Saya memutuskan untuk melanjutkan permainan Assassins Creed. Setelah bermain dengan ke 7 serial Assassins Creed ( AC, AC2, AC brotherhood, revelations, 3, 4, dan Liberation) Saya pun melanjutkan serial ini dengan serial Assassins Creed ke 8 yaitu Assassins Creed Rogue. Supaya gak capek ngetik dan boros karakter Assassins Creed akan saya singkat jadi AC (bukan pendingin ruangan yah).

Continue reading


Leave a comment

430. Ngapain sih beli tablet!?

430. Ngapain sih beli tablet!? 3 tablet paling kece saat ini: ipad mini, Nexus 9 dan Galaxy tab S

430. Ngapain sih beli tablet!? 3 tablet paling kece saat ini: ipad mini, Nexus 9 dan Galaxy tab S

Halo para pembaca? Gimana nih libur lebarannya?
Udah abis belum THRnya? hehe

Salah satu kegelisahan dan kegusaran pikiran Saya kemarin saat ingin lebaran adalah Bagaimana caranya supaya bahan bacaan yang Saya punya bisa terbaca semua. Selama ini semuanya hanya menumpuk (lama-lama jadi perpustakaan deh). Kebetulan bahan bacaan Saya ini banyak yang berbentuk digital (epub). Salah satu teman Saya yang merupakan tokoh black marketeers dan hacker namun, hobi membaca menyarankan untuk membeli tablet 7 inchi.

Katanya sih, beliau banyak menghabiskan waktu membaca dengan tablet 7 Inchi bermerk SAMSUNG. Ada juga yang pakai Nexus 7 (lupa yang tahun 2012 atau 2013). Ada juga teman Syaa yang beli iPad juga dengan alasan enak buat baca. Di zaman yang sudah penuh dengan smartphone raksasa (Hingga 6 inchi) apakah tablet 7 Inchi masih relevan? Apakah perbedaan 1 Inchi sangat mempengaruhi User Experience dan kenyamanan dalam membaca?
Selama liburan ini, Sayapun dapat pinjaman tablet 7 inchi dari kantor. Tablet bernama HP voicetab 7 Bali edition inipun Saya install berbagai aplikasi untuk membaca. Berikut ini hal yang saya pelajari:

1. Ternyata baca pake tablet pas tiduran atau duduk berat juga yah! Kalau di pakai untuk membaca 3 menit sih gak kerasa tapi, kalau baca buku yang 200 – 300 halaman…BERAAAAT. Bentuk tablet yang pipih dan tipis ternyata gak enak buat di genggam lama-lama dengan 1 maupun 2 tangan. Mendingan baca pakai Nintendo DS kemana-mana deh.

2. Baca di tablet memang enak karena, hurufnya lebih besar tapi…kan pakai smartphone bisa juga di gedein hurufnya.
Sampai saat ini, Saya belum menemukan alasan kuat mengapa Saya harus membeli tablet 7 inchi maupun 10 inchi. Kalau ada yang punya alasan kuat mengapa tablet masih relevan di zaman smartphone raksasa seperti sekarang ini, tolong komentar di bawah ini. Salam kuper~