KRAUKRAUKDI

Design, Technology, Art and Love for better Life

433. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

Leave a comment

432. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

432. Apa yang saya pelajari dari Go-jek!

Go-jek adalah salah satu solusi transportasi di Jakarta. Menurut Saya ada tiga keunggulan dari layanan buatan Nadiem Makarim anak Indonesia yang kuliah di harvard ini. Keunggulannya antara lain:
1. Harganya yang relevan (karena kalau nawar dengan tukang ojek harganya suka gak tau diri)

2. Ojek yang mendatangi pelanggan (biasanya kan pelanggan yang ke pangkalan ojek )

3. Bisa bayar dengan Credits, artinya gak usah ribet-ribet bawa uang dan terkena konflik gak ada kembalian.

Dari ketiga keunggulannya tersebut Gojekpun menjadi fenomena tersendiri. Saya sebagai User Experience (UX ) Designerpun mencoba untuk mempelajari Go-jek ini. Bagi pengendara Gojek, dengan adanya layanan ini mereka mendapatkan peningkatan penghasilan yang signifikan dibandingkan dengan ngojek seperti biasanya. Kalau ngojek biasa, mereka lebih banyak mangkal di pangkalan dan maksimal hanya mendapatkan Rp 150 ribu perharinya.

Berbeda halnya dengan saat bergabung dengan Gojek, mereka mendapatkan rata-rata Rp 350 ribu perhari alias Rp 10 Juta perbulan. Naik drastis kan!?

Loh! kok bisa?

Sebenarnya hal ini masuk akal karena, sang pengendara Gojek lebih produktif alias jarang nganggurnya. Kuantitas mereka melayani penunmpang menjadi lebih banyak di banding ngojek biasa. Sehari mereka bisa melayani 10-15 penumpang perhari. Gojekpun memberikan bonus Rp 50 ribu apabila mereka melayani 10 penumpang perharinya. Ditambah lagi, promo Rp 10 ribunya Go-jek di jam tidak sibuk hal ini menjelaskan bahwa Gojek mengejar peningkatan jumlah pemakai dengan memberikan insentif kepada pengendara dan penumpang.

 

Sistem bagi hasil
Secara sistem pembagian hasil dengan pengendara, Saya kagum sekali dengan sistem yang dipakai oleh gojek. Go-jek sebenarnya meniru sistem bagi hasilnya Google Play dan AppsStore yaitu sistem deposit. Pembagian keuntungannya dalah 80% untuk pengendara, 20% untuk Gojek. Sang pengendara bisa mengambil uangnya apabila sudah mencapai jumlah deposit minimal Rp 300 ribu dan itupun hanya boleh di ambil Rp 200 ribu saja. Rp 100 ribunya harus tetap ada di deposit Go-jek (kayaknya biar tetap ada uangnya di akun bank si pengendara yang didaftarkan Go-jek deh).

Sistem pembayaran

Dalam segi pembayaran ada 3 jenis metode pembayaran di Go-jek. Bayar secara tunai, Gojek Credit dan Corporate ID (pakai ID perusahaan yang sudah kerjasama dengan Go-jek). Apabila penumpang membayar dengan uang tunai artinya sang pengendara harus menyetorkan uang tunainya perhari ke Go-jek via langsung datang ke kantor atau transfer ATM.

Go-jek Credit adalah sebuah metode pembayaran dimana pengguna Gojek harus mentransfer sejumlah uang (minimal Rp 100 ribu) ke rekening Go-jek yang nantinya di ubah menjadi Gojek Credits. Mirip-mirip pulsa prabayar lah. Kalau penumpang sudah berhasil diantarkan ke tujuan maka, Gojek Creditnya akan secara otomatis terpotong dan penunmpang tidak perlu memberikan uang ke pengendara gojek+tukang gojeknyapun sudah tahu bahwa dia tidak akan dibayar dengan uang tunai. Begitu juga dengan Corporate ID, dimana penumpang tinggal memasukan ID perusahaan dan per bulannya perusahaan akan ditagih sejumlah pemakaian perbulannya (pasca bayar).

Sistem menejemen dan kontrol

Mengatur manusia itu memang paling susah tapi, disinilah Saya banyak belajar dari Go-jek!
Bagi sang pengendara Go-jek untuk menjadi bagian dari perusahaan ini, membutuhkan proses yang cukup sulit. Banyak tes yang harus dilalui dan seiring perkembangan waktu, tes masuknyapun semakin selektif. Salah satu hal yang saya kagumi dari Go-jek adalah bagaimana mereka mendisiplinkan sang pengendara dan ini benar-benar butuh usaha dan waktu yang banyak. Go-jek memberikan aturan berupa SOP dan pelatihan yang jelas bagi sang pengendara untuk disiplin dan sopan.

Apabila terjadi pelanggaran atau sang pengendara pendapatkan keluhan serta rating di bawah 3 oleh penumpang maka mereka akan mendapatkan sanksi yang keras. Misalnya, pengendara tidak sopan atau ngebut lalu, mendapatkan rating 1 dari penumpang maka penghasilan dia dari penumpang tersebut akan di potong Rp 10 ribu! Bayangin aja kalau dia cuman nganter dan dapet Rp 25 rebu dan di potong Rp 10 ribu,wew~ (itulah pengakuan salah dua pengendara).

Selain pengendara, kondisi motor yang digunakanpun haruslah layak jalan dan nyaman. Pengendara bisa di skors apabila motor yang digunakan tidak layak jalan dan apalagi membahayakan nyawa penumpang. Go-jek sendiri mempunyai program kumpul-kumpul pengendara perbulannya yang berguna untuk mengakrabkan para pengendaranya.

Menurut Saya, layanan Go-jek ini masih jauh dari sempurna namun, Saya percaya Go-jek sedang menuju ke arah yang lebih baik dengan membuat pengendarannya sopan dan disiplin. Kultur yang lebih baik inilah yang akan meningkatkan User Experience dari sang penumpang dan menghasilkan konsumen yang loyal.

Author: kraukraukdi

I'm Fearless...If you interested in Design, Technology, Art and Love for better Life. Please check kraukraukdi.wordpress.com and follow me @soekarnold

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s