449. Mahalnya pelatihan UX design!

Mahalnya pelatihan UX design! Acara workshop lokal
Mahalnya pelatihan UX design! Acara workshop lokal

 

Apa yang terpikir di benak Anda saat melihat gambar di atas?

(jawab di kolom komentar)

Kalau di pikiran saya sih ” Astaga! Mahal banget yah?”

Saya gak tahu sih pasaran harga pelatihan UX design itu berapa tapi, yah menurut Saya itu mahal. Pelatihan UX design sendiri atau workshop biasanya diadakan 1 hari penuh atau 4 hari tapi dibagi-bagi menjadi 5 jam per hari. Asyiknya ikut pelatihan ini sih bisa ketemu banyak teman baru, praktek metode UX langsung, tanya jawab lebih memuaskan dan biasanya sih bisa kenalan dengan cewek cakep,hehe. Melihat harga training 4 Juta di Indonesia mahal maka Sayapun melihat yang diluar negeri. Kira-kira berapa yah?

Mahalnya pelatihan UX design! Acara workshop luar.
Mahalnya pelatihan UX design! Acara workshop luar.

WADUH! (sudah kuduga)

Darisini Saya sadar bahwasanya, ilmu itu mahal harganya. Mungkin harga yang mahal juga dipakai supaya peserta yang ikut serius dengan workshopnya. Pertanyaanya dari benak Saya adalah:

Apakah dengan harga yang mahal itu sebanding dengan apa yang pesertanya dapatkan?

Masih menjadi misteri.

Semoga kedepannya Saya bisa (dan mampu) ikut workshop-workshop UX dan bisa berbagi pengalaman kepada para pembaca setia kraukraukdi.wordpress.com. Kalau ada yang pernah ikutan silahkan komen yah 😉

Advertisements

448. Smartwatch : perlu gak sih?

448. Smartwatch : perlu gak sih? Smartwatch berbagai merk yang beken di tahun 2015.
448. Smartwatch : perlu gak sih? Smartwatch berbagai merk yang beken di tahun 2015.

Teknologi wearables (perangkat kecil yang berupa gelang atau jam atau kepingan sensor) menjadi sebuah sensasi tersendiri di dunia teknologi. Di tahun 2005 ini saja, para produsen sudah berlomba-lomba untuk membuat wearables. Wearables pun banyak jenisnya: Ada yang pedometer (pengukur langkah) di tambah sensor ini itu, ada jam yang di beri GPS, Ada juga gelang yang di beri sensor detak jantung. Pokoknya beragam banget deh!

Salah satu yang paling diminati oleh masyarakat adalah smartwatch. Jam dengan harga mahal yang katanya pintar ini punya banyak fungsi antara lain: menampilkan notifikasi dari smartphone, sebagai alat pembayaran, sebagai pengukur langkah , pengukur detak jantung, penghitung kalori, dan berbagai jenis lainnya. Sayangnya hingga tulisan ini di publikasikan belum ada smartwatch yang sudah dengan baik menjalankan fungsi diatas.

448. Smartwatch : perlu gak sih? Garmin Killer.
448. Smartwatch : perlu gak sih? Moto 360 sport, Garmin Killer.

Pasti ada saja cacat celanya. Giliran fiturnya lengkap tapi baterenya boros dan lamban banget saat digunakan+ harus bawa smartphone unutk mendamping smartwatchnya (A*ple W*tch). Ada juga yang bisa mengukur kebugaran kita dengan lengkap+baterenya awet 2 minggu tapi, datanya gak akurat. Selain performa dan kelengkapan fiturnya, masalah utama dari smartwatch adalah baterenya yang boros (dibandingkan dengan fitnes tracker kayak Fitbit dan Jawbone).

448. Smartwatch : perlu gak sih? wearable lain selain smartwatch. ini namanya gelang pintar alias smart band.
448. Smartwatch : perlu gak sih? wearable lain selain smartwatch. ini namanya gelang pintar alias smart band.

Selain batere, smartwatch juga menimbulkan masalah sosial. Masyarakat zaman sekarang yang sudah ketagihan menatap smartphone akan, makin ketagihan dengan adanya smartwatch. Hal ini dikarenakan, orang akan semakin mudah mendapatkan notifikasi dan akan makin sulit fokus. Bukan hanya smartphone saja yang berbunyi dan bergetar, pergelangan tanganpun akan ikut-ikutan juga. Bayangin aja kalau lo lagi cebok da tiba-tiba smartwatch lo bergetar atau bunyi. Bisa berabe kan?hehe

447.UX design: 5 tips untuk form pengiriman yang lebih baik!

447.UX design: 5 tips untuk form pengiriman yang lebih baik! Suasana gudang lazada
447.UX design: 5 tips untuk form pengiriman yang lebih baik! Suasana gudang lazada

Waktu hidup manusia itu terbatas. Apalagi masa mudanya. Mengisi formulir adalah hal yang menghabiskan masa muda apalagi kalau, mengisi formulirnya dilakukan berkali-kali seperti di aplikasi belanja atau aplikasi finansial. Hal seperti itu akan berakibat buruk sekali kepada User experience (UX) pengguna.

Mengetik alamat, kecamatan, kode pos (kadang lupa), atau menulis RT dan RW bisa membuat pengguna menjadi malas dan gak jadi belanja. Pengguna gak jadi belanja mengakibatkan sales perusahaan turun. Sales turun mengakibatkan investor tak percaya akan masa depan perusahaan. Investor yang tak percaya menarik dananya dan perusahaanpun jomplang. Perusahanpun mem PHK karyawan. Sales yang terus menurun dan minimnya tenaga kerja membuat perusahaan memutuskan gulung tikar.

Jadi sepenting itulah UX pada form pengiriman / shipping form.

Form pengiriman sebenarnya bisa dibuat lebih baik secara UX, berikut tips dari Saya:

Continue reading “447.UX design: 5 tips untuk form pengiriman yang lebih baik!”

446. Apa yang pelajari dari mas Agung Nugroho!

446. Apa yang pelajari dari mas Agung Nugroho! Walaupun sibuk tapi, mas Agung menyempatkan diri di wawancara reporter TV
446. Apa yang pelajari dari mas Agung Nugroho! Walaupun sibuk tapi, mas Agung menyempatkan diri di wawancara reporter TV

Agung Nugroho adalah senior Saya di kampus dan beliau merupakan alumni Teknik Kimia ITB. Berkiprah di selama 5 tahun sebagai konsultan di BCG dan mendapatkan beasiswa s2 MBA di Berkley HAAS, Amerika. Umurnya masih 30. Passionnya yang ingin membuat Indonesia lebih baik membuat dia kembali ke tanah air dan bertindak sebagai Project Manager di sebuah organisasi developer dan startup yang mencoba memcahkan masalah bangsa dengan teknologi bernama Code4Nation. Alumni ITB  lagi. Keren kan?

Berikut ini ada dua hal yang saya pelajari dari beliau:

1. Apa yang susah kalau setiap hari dikerjakan akan menjadi mudah

Kerjaan sebagai konsultan di BCG maupun McKinsey menyita waktu kerja 80 jam seminggu. Dari ngumpulin data, Crunching data sampai kasih solusinya ke klien. Kebayang gak gimana capeknya ” Awal-awal sih, gue bingung gimana ngerjainnya? bahasa inggris gue belepotan. Pokoknya susah banget deh awal-awal. Tapi setelah 5 tahun semua tuh udah kayak biasa banget. kayak lo udah tau abis ini tuh harus gimana? data dapet darimana? cara ngolahnya yang cepet gimana? meeting ke klien bagusnya gimana? yah jadi ga semenantang dulu” kata mas Agung.

2. Lingkungan SANGAT AMAT menentukan pola pikir seseorang

Selama berkuliah di universitas top 27 di dunia yaitu Berkeley(2012-2014), Mas Agung sering bergaul dengan orang-orang dari Sillicon Valley. Di Sillicon Valley itu gak ada yang gak mungkin. Semua ide konyol dan gak mungkinpun ada disana. Dari mobil listrik yang bisa lari jauh dan kenceng bernama Tesla sampai,Robot yang bisa lari kenceng dari Boston Dynamic, taksi ke luar angkasa bernama Space X ada. Ide yang konyol atau gak mungkin di Indonesia disana diwujudkan!

“Waktu 2013 sih, mereka semua masih cupu tapi, coba aja lo Googling mereka bertiga sekarang? Lo bakal temuin hal yang keren dan luar biasa dari mereka.” kata mas Agung. Diapun berikir bahwa, kalau di Sillicon Valley aja bisa kenapa, di Indonesia enggak? “Di Amerika yang teratur dan level imporvement nya kecil aja, peluang membuat inovasi dan kesalahan bisa besar. Kenapa di Indo yang belum teratur dan level of improvement nya besar gak ada inovasi? harusnya lebih banyak inovasi donk? ” Tukas mas Agung.

446. Apa yang pelajari dari mas Agung Nugroho! Ketemu Presiden
446. Apa yang pelajari dari mas Agung Nugroho! Ketemu Presiden

Kalau saya lihat sih ini semua hanya masalah mental. Kalau mentalnya memang kuat dan optimis, sekonyol-konyolnya ide bisa aja diwujudkan dan jadi keren. Contohnya siapa sih yang butuh ngetik 160 karakter disaat e-mail dan microsoft word udah bisa nyimpen ratusan ribu karakter? Siapa sih yang butuh handphone touch screen disaat semua orang pakai handphone yang ada keyboard fisiknya dan semua handphone touchscreen (Palm dan O2) jarang yang pakai? Semuanya tergantung mentalitas pembuatnya. Bukan otak, bukan tenaga, bukan teknik tapi, mental!

445. Dilema diriku dan Nexus 6!

445. Dilema diriku dan Nexus 6!
445. Dilema diriku dan Nexus 6!: Nexus 6 sudah di depan mata

Saya pengguna Nexus 4. Smartphone ini sih lancar-lancar saja secara performa tapi, batere dan kameranya sering mengecewakan. Di tahun 2015 ini, muncullah solusi dari kedua kekurangan Nexus 4, yakni Nexus 6 buatan Motorola! Designnya keren banget, spesifikasinya gahar, baterenya 3200 mAh (dibandingin 2100 mAH Nexus 4), hasil jepretannya bagus lagi! Udah gitu di Laz*da cuman 6,5 juta lagi (harga asli 8juta). Waduh! kesempatan beli banget kan? (mumpung promo)
Di pagi harinya pun Saya berdoa kepada Tuhan,

“Tuhan, saya mau beli Nexus 6 nih tapi, tapi belom pernah megang devicenya. Gimana yah?”.

Sepanjang haripun Saya mencari-cari di web jangan-jangan ada yang lebih murahdari Laz*da lagi?hehe…
Di malam harinya, Saya menghadiri acara penjelasan Android M yang diadakan ole Google ( Ya, iyalah google masak diadakan Microsoft?). Setelah menjelaskan tentang fiturAndroid M yang dari tampilan gak banyak beda namun, secara development menjadi lebih mudah munculah sesi demo.

Waktu demo itu, ternyata orang Google (bule-bule) bawa Nexus 6 langsung dari US bukan Laz*da.
Sayapun kalap mata dan mencoba Nexus 6 yang ada di depan mata. Menurut saya Nexus 6, punya layar yang paling bagus diantara semua Android, designnya yang ergonomis alias enak di genggam dan kameranya setara iPhone! Serius deh. Baru kali ini ada Android yang kameranya bagus di tempat yang cahayanya kurang. Satu hal yang membuat Saya kecewa adalah ukurannya. Walaupun enak genggam tapi, mustahil mengoperasikannya dengan satu tangan. Apalagi buat mencet tombol drawer dan back Android yang lokasinya di kiri(saya gak kidal). Bisa sih tapi, susah aja atau tangannya musti bongsor. karena tak mungkin memperbesar telapak tangan dan jari serta, besarnya resiko penggunaan sehari-hari maka saya mengurungkan niat membeli Nexus 6.
Pesan moralnya dari blog ini adalah ” Tuhan itu baik”.