KRAUKRAUKDI

Design, Technology, Art and Love for better Life

you_might_also_like_apple_iphone_se

471. UX design: buat pengguna tegila-gila dengan aplikasi Anda!

Leave a comment

Aplikasi yang sukses adalah aplikasi yang user-retention alias penggunanya balik-balik terus buka aplikasi itu. Sampai-sampai kecanduan. Kalau bisa setiap 10 menit sekali mengecek aplikasi itu. Setelah membaca buku Hooked dari Nir Eyal dan mempelajari contoh-contoh aplikasi yang adiktif Saya menemukan beberapa pelajaran yakni;

  1. Aplikasi yang adiktif merupakan gabungan psikologi dan desain!Otak manusia merupakan suatu objek yang menyimpan banyak misteri. Para ahli menemukan bahwa, adanya kesamaan aktifitas otak antara kecanduan rokok dan kecanduan media sosial. Salah satu hal yang membuat kecanduan adalah aktifitas “Cari dan menemukan harta karun” maksudnya adalah dalam menggunakan aplikasi itu pastikan pengguna menemukan apa yang dia cari atau minati.

    Contohnya: Instagram dan Youtube merekam apa saja sih yang kita sukai dan minati. Artis yang mana? Olah raga apa? atau acara TV apa? semuanya itu mereka rekam untuk lebih memahami kita(pengguna). Hal inilah yang membuat kita bisa berjam-jam browsing(liat-liat gak jelas atau ga pake ‘search’) di Youtube dan Instagram.

    Scroll-
    scroll-
    scroll eh, ada Acara TV Korea kesukaan gue nih!Scroll-
    scroll-
    scroll eh, ada Artis Korea kesukaan gue nih!

    Scroll-
    scroll-
    scroll eh, ada Lagu Korea kesukaan gue nih!

    Scroll-
    scroll-
    scroll Sudah 20 menit berlalu.

    Secara natural manusia akan mengabaikan apa yang tidak di minatinya / cari dan meng-klik apa yang diminatinya untuk mempelajari lebih lanjut.

    Menemukan Apa yang kita cari atau minati ternyata merangsang bagian otak yang melepaskan hormon endorphin sehingga, kita senang. Aktifitas “Cari dan menemukan harta karun” inilah yang membuat kita betah berlama-lama.

    Bayangkan kalau ada aplikasi yang sudah scroll sampe pegel tapi gak nemu apa yang kita inginkan dan minati? bentaran juga di uninstall,hehhe.

    Hal ini juga terjadi kepada notifikasi. Dimana saat Anda melihat bagian kanan atas layar ada bunderan warna merah dan ada Angka putih di dalamnya. Warna merah amatlah mencolok mata sehingga, pengguna penasaran. Apaan sih itu? Saat di klik keluarlah beberapa pesan notifikasi yang isinya kadang penting kadang gak penting juga.

    Hal ini sama saja dengan Anda berjudi/lotere. Anda tidak tau apa hadiah yang ada di dalam 1 kotak misteri. Bisa hadiah yang penting bagi Anda(misal Pulsa Rp100ribu) bisa juga enggak penting (misal penjepit kertas). Jikalau hadiahnya ga membuat Anda senang, Anda bisa mencoba membukanya lagi dalam waktu 5 menit kedepan secara GRATIS. Hal inilah yang membuat pengguna kecanduan aplikasi.

  2. Aplikasi yang adiktif cara menggunakan fungsi utamanya gak usah mikir!

    Ada yang tau gak kalau di menu utama Instagram atau “HOME” kalau di swipe ke kanan bakal ke “message” kalau swipe ke kiri jadi “foto-selfie alias swafoto”? Mayoritas pengguna gak sadar akan fitur ini. Kebanyakan pada scroll ke bawah untuk melihat postingan terbaru dari teman, keluarga dan artis kesayangannya.Scroll ke bawah tanpa pencet apa-apa adalah navigasi ter adiktif dan termudah yang akan digunakan pengguna.

    Kalau gak percaya liat aja Instagram, Youtube, Facebook, Pinterest, Path dan kawan-kawan. Dimana aktifitas penggunanya (atau Anda) kebanyak scroll kebawah bukan, pencet sana-sini atau “tap & hold” di bagian tertentu untuk posting atau apapun lah.Kalau masih gak percaya kalian coba aja buka facebook dan hal yang pertama kalian lakukan ( kebanyakan) adalah scroll kebawah bukan “drag & drop” foto ke postingan atau scroll ke kanan-atau kiri.

  3. Aplikasi yang adiktif bisa ditemukan dimana-mana (selama ada internet)!

    Disini maksudnya bukan bisa di temukan di Google play store dan Appstore atau store-store lainnya yah. Aplikasi yang adiktif biasanya memiliki plugin sehingga bisa terlibat di segala aktifitas internetan pengguna.Misalnya Facebook mempunyai plugin sehingga setiap baca berita, twitter, ataupun ada gambar lucu di 9gag bisa langsung di bagikan ke facebook Anda.

    Plugin ini bisanya yang memasang adalah sang pemilik website. “Share to facebook” atau bagikan ke FB seakan sudah menjadi standar di website-website. Kalau sudah login FB Anda gak perlu lagi pusing-pusing copas URL lalu taro di FB. Cukup klik logo FB maka apa yang Anda temukan di Internet bisa dibagikan ke timeline Facebook Anda.

    Berbeda pendekatannya dengan Pinterest, Dimana pinterest membuat plugin untuk browser Anda sehingga gambar apapun yang Anda sukai dan temukan di Internet bisa langsung di simpan ke akun papan/board pinterest Anda. Setelah pengguna menginstall plugin Pinterest, pengguna Cukup klik kanan dan pencet “bagikan ke pinterest”. Gak perlu scroll kebawah dan cari ada logo pinterest di website untuk membagikan/ share gambar.

    Kedua contoh diatas menjadikan Anda/pengguna selalu kembali ke Facebook atau Pinterest dimanapun mereka berada. Makin banyak konten yang Anda bagikan ke FB atau Pinterest maka semakin berharga kedua aplikasi itu bagi Anda.

  4. Aplikasi yang adiktif punya pesan khusus untuk Saya!

    Salah satu kebutuhan utama manusia adalah untuk di akui eksistensi. Hal ini juga yang dipergunakan sang pembuat aplikasi sehingga Anda tergila-gila menggunakannya. Adanya notifikasi di Instagram bahwa, foto Anda di sukai seseorang membuat pengguna senang. Begitupula apabila nama Anda di sebut(mention) oleh teman pasti hal ini membuat Anda lebih senang lagi. Senang bukan karena, isi pesannya tapi lebih kepada di akui eksistensinya.Penghargaan sosial atau apresiasi dari pengguna lain inilah yang membuat Anda semakin adiktif membuka aplikasi tersebut.

    Contoh lainnya adalah WhatsApp. WhatsApp adalah aplikasi paling adiktif di tahun 2016 ini bukan karena, tampilannya namun karena setiap pesan yang ada di WhatsApp adalah pesan yang khusus untuk Anda. Hanya Anda seorang bukan orang lain. Hal inilah yang membuat setiap melihat notifikasi WhatsApp pengguna akan cepat-cepat membuka HP.Berbeda halnya notifikasi LINE dan Facebook yang terkadang isinya promosi, fitur baru, aktifitas orang lain yang sebenarnya gak terlalu penting banget untuk Anda lihat saat itu juga. Bisa juga pesannya bukan khusus buat guweh.

    Contoh 1: Anda pelajar SMA cowo & punya motor CBR Oranye yang dapat notifikasi promo nonton Bioskop diskon 90% asalkan menunjukan surat Amnesti pajak Anda. Boro-boro Amnesti pajak, punya NPWP aja kagak. Boro-boro NPWP, kerja aja belom. Ini CBR aja boleh minjem.

    Contoh 2: Anda pelajar SMA cowo & punya motor CBR Oranye yang mendapatkan pesan WhatsApp dari kontak “Sayangku nomer yang IM3″ dengan pesan ” Lagi kangen kamu nih”.

    Contoh nomer 2 akan lebih penting dan segera di buka pengguna dibandingkan yang pertama karena, contoh nomer 2 memiliki pesan yang khusus untuk pengguna itu. Semakin sering pengguna melihat notifikasi maka, hal ini akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan dimana langsung mengecek dan buka notifikasi WhatsApp namun, lebih sering mengabaikan notifikasi LINE dan Facebook kalau isi notifikasinya sering gak penting.

    B: Penting dan ga penting bisa di nilai dari ‘user profiling’ alias, aplikasi harus tau apakah minat, kesukaan bahkan, siapa sih orang yang dipedulikan si pengguna.

Author: kraukraukdi

I'm Fearless...If you interested in Design, Technology, Art and Love for better Life. Please check kraukraukdi.wordpress.com and follow me @soekarnold

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s