503. iPhone X dan Ex iPhone

503. iPhone X dan Ex iPhone
503. iPhone X dan Ex iPhone antrean di Singapura,wew~ dari subuh

Baru-baru ini Apple merilis iPhone X ( baca; ai-fon ten bukan ai-fon ex). Banyak warga Indonesia yang rela antre di Singapura untuk mendapatkan iPhone X. Secara spesifikasi dan fungsi iPhone X ini mirip-mirip dengan iPhone 8 yang notabene lebih murah. iPhone X sendiri merupakan suatu pencapaian dimana harga smartphone mencapai $1000 (Rp 17 Juta ++)  dan pastinya lebih banyak lagi produsen membuat smartphone dengan harga segitu. harga yang lebih mahal. ( Padahal Vertu udah bikin HP mahal dari dulu yah tapi, karena ini Apple yah beda lah ya).

Sepengamatan Saya iPhone X adalah suatu tanda bahwa Desain itu sangat penting banget dan menambahkan nilai tambah dan jual bagi suatu produk. Dari kegunaan dan spesifikasi iPhone 8 atau iPhone 6S yang bekas pun bisa menghadirkan UX yang mirip dengan iPhone X. Namun dengan adanya layar yang ikonik dan fasilitas face ID dengan infra merah membuat banyak pengguna (terutama wanita) mau membeli iPhone X.

dltntduuiaafhyp

Gaya yang utama, fungsi kedua.

Di tahun 2017 ini ternyata aspek desain yang gaya lebih menang dari fungsi untuk kebanyakan orang. Itulah yang Saya pelajari. Apple tak selalu menjadi yang pertama dalam menghadirkan inovasi dalam teknologi dan desain namun, mereka selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam menghadirkan inovasi desain dan teknologi itu secara user experience (UX).

503. iPhone X dan Ex iPhone! cost of iPhone X
503. iPhone X dan Ex iPhone! cost of iPhone X
Advertisements

502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking!

502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking!
502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! digibank buatan DBS. Bukan DBSK 😉

Kenapa di tahun 2017 ini banyak Startup Financial Tech (Fintech) bermunculan?

Karena, para founder startup fintech melihat banyaknya pain point yang dialami masyarakat berinteraksi dengan bank.

Mau minta pinjaman, repot.

Mau investasi, repot.

Mau menggadaikan barang, repot. Serta berbagai kerepotan lainnya.

Bank-bank di Indonesia (terutama yang besar alias sudah buku 4) menyadari hal ini dan berlomba-lomba menjadi digital banking. Sebagai contohnya BRI sebagai bank dengan asset terbesar di Indonesia sedang menggalakan kolaborasi dengan membuka API mereka. mereka pun mulai melakukan proses development secara SCRUM dan melakukan Design Thinking. Segala produk yang dikeluarkan nantinya harus, berfokus kepada user/pengguna.

502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! JENIUS
502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! JENIUS nih karya anak bangsa. Produk yang fenomenal dan membuat banyak bank panas,ahahaha

Dalam eksekusinya, Hal yang para bank-bank besar ini lakukan biasanya membuat 2 divisi yang berbeda. 1 divisi yang konvensional masih menjalankan bisnis bank secara normal. 1 Divisi ini yang menggarap bisnis baru terutama digital banking.

Prinsip digital banking sendiri sebenarnya berakar dari prinsip ;

” Banking is an activity not place”.

Artinya di tahun 2017 ini user Indonesia lebih memerlukan kegiatan perbankan daripada pergi ke banknya. Jangan sampai keterbatasan cabang, ATM dan berbagai infrastruktur lainnya membuat user susah melakukan kegiatan perbankan. Untuk memperbaki hal ini Bank memerlukan banyak investasi di programmer, automated security testing dan tentunya User Experience (UX).

how-square-is-disrupting-banks-6-638
502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! Petuah bang Billy.

Di salah satu acara yang Saya ikuti, Salah satu petinggi bank besar mengatakan bahwa,

“Kita melakukan ini karena, gak mau ter distrupt oleh bank asing dan jasa-jasa lainnya. Hal ini udah terjadi dengan industri telekomunikasi yang ter distrupt dengan jasa OTT (Over The Top seperti WhatsApp, FB, Twitter, Google,IG, Telegram, dsb). Di zaman ini kalau, kita gak berubah maka kita akan mati.”

Hal yang Saya perhatikan di salah satu seminar juga adalah kalau bank-bank yang sudah buku 4 ini bisa melakukan transformasi dan bisnis digital  banking nya dengan FULL POWER namun, bank yang lebih kecil biasanya lebih berhati-hati. Melakukan penerapannya lebih lambat bisa di ukur dengan perubahan dari tahun ke tahun (menurut Saya lambat sih kalau tahunan gini).

Bank yang lebih kecil juga biasanya lebih melihat apa yang kompetitor lakukan terlebih dahulu di bandingkan melakukan inovasi karena, keterbatasan budget dan tenaga kerja juga. Tapi yang ini kayaknya tergantung pemimpinnya juga deh, Kalau kita lihat JENIUS dari BTPN malah yang pertama dan heboh membuat Digital banking untuk milenial.

502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! Bank di dunia DIgimon
502. Berlomba-lomba menjadi Digital Banking! Bank di dunia Digimon buatan MRizzi.

499. Apa yang Saya pelajari dari Social Media Week 2017!

SMW JKT 2017, UXID
499. Apa yang Saya pelajari dari Social Media Week 2017! Ini dia nih panggung SMW jakarta 2017

Beberapa bulan lalu Saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara Social Media Week yang di adakan di SCTV Tower. Saya sendiri menghadirinya karena, dua hal yakni; Dapet tiket Gratis dari kantor dan lokasi nya di seberang kantor Saya. Mubazir banget kan kalau ga ikutan? hehehe…

Berikut ini beberapa hal yang Saya pelajari dari Social Media Week 2017 (SMW);

1. Personalisasi dalam aplikasi dan marketing


Ternyata dua hal ini membuat revenue naik 15% dan mengurangi ongkos marketing 50% (SETENGAH coy!), Efisiensi marketingnya pun naik 30%. Personalisasi ini maksudnya adalah merekam kegiatan user di produk Anda dan coba sodorkan apa yang user mau berdasarkan online activitynya. Contohnya user yang suka browsing tentang sepeda gunung harusnya dapat email promosi yah mengenai sepeda gunung dan aksesorisnya. Jangan malah nawarin popok dan bedak bayi.

Personalisasi ini bisa dilakukan dengan Machine learning yang merekam perilaku user dan sebenarnya di zaman sekarang ini bisa di otomasi. Yang perlu desainernya lakukan adalah membuat layout promonya, tampilkan kata-kata yang menggiurkan dan jangan lupa strateginya supaya email yang di baca user mudah di mengerti + harus bisa di buka di perangkat mobile.

Personalisasi ini bukan hanya dilakukan di email marketing namun,juga di dalam aplikasi atau web. Jadi semua promonya itu relevan dengan apa yang user inginkan. Untuk membuat sistem yang ada personalisasinya ini di butuhkan kerja keras dan komitmen dari tim IT dan marketing. Walaupun developnya lumayan ribet tapi, hasil jangka panjangnya sebanding banget.

2. Micromoment


Salah satu best practice yang disarankan Google supaya bisnis para partnernya maju adalah dengan  memperhatikan dan mendevelop solusi berdasarkan micromoment.  Micromoment sendiri adalah momen-momen kecil yang dialami user.

Contohnya; ” I want to know moment”, ” I want to find moment” dan “I want to buy moment”.

Kalau sudah tau momen mana yang mau di kerjakan darisana mulailah dengan prinsip; Right people, Right time dan Right message.

Kalau dari UX desainer sendiri, mulailah menganalisa atau mencari masalah dari momen-momen ini. Dari momen itu di pilih deh  user seperti apa yang akan di tuju? Kapan waktunya? dan Apa pesan yang ingin diberikan. Contoh paling gampangnya adalah JET dot com yang memberikan pesan kepada user untuk menambahkan barang lainnya supaya user mendapatkan gratis ongkos kirim.

Nah, itulah yang Saya pelajari sebagai UX desainer selama SMW 2017. Saya ikutnya juga ga semua sesi karena, paralel juga jadi harus milih-milih. Semoga tahun depan bisa ikut SMW lagi dan belajar lebih banyak hal lainnya.

498. Forum UI desainer dari Indonesia nan Kece Badai

Forum UI desainer dari Indonesia nan Kece Badai
Contoh UI design yang nge animasiin. ini ceritanya membayangkan kontrol scrolling pake mata.

Di kala produk dijital meraja lela bahkan melebihi restoran lele lel*,ahahhaa

Ada banyak posisi baru  yang naik daun. Salah satunya adalah UI designer . UI designer adalah sekumpulan desainer dari kampus yang gede banget di depok.

hehehe, enggak degh.

UI designer adalah User Interface Designer. Posisi ini lah yang membuat semua tampilan di produk dijital dari halaman pendaftaran hingga halaman error-error. User Interface sendiri di populerkan oleh Apple Macintosh (1984) dimana sebelum Apple semua komputer di operasikan dengan cara ngetik kode.

Bayangin deh klo fungsi klik kanan dan kiri mouse elo harus di ketik kodenya? repot kan?

Nah, kembali ke masa kini. UI designer di Indonesia sendiri sudah sangat berkembang dan banyak yang udah jago-jago kemampuannya hingga di akui dunia. Sayangnya belum ada forum berbagi ilmu dan info tentang UI designer di Indonesia. Hingga akhirnya Kak Thomas Budiman dan kak Dwinawan membuat forum yang kece bernama INSIGHT.DESIGN.

Forum UI desainer dari Indonesia nan Kece Badai
Forum UI desainer dari Indonesia nan Kece Badai. ini nih tampilannya.

 

Pendirinya adalah kak Dwinawan dan kak Thomas. Mereka ini bagaikan Naruto dan Sasuke nya di dunia UI design Indonesia (ini lebay sih),hehehe…

DI Insight ini kita bisa belajar banget tentang ilmu-ilmu,tips dan trik tentang UI desain dan terlebih pentingnya INSIGHT ini karya anak bangsa. Buat yang berminat ke bidang UI desain atau mau belajar-belajar bisa gabung aja ke insight yah.

GRATIS kok 🙂

Ini linknya yah; http://insight.design/

 

P.S: ini bukan promosi yah tapi, emang forum ini keren adanya.

497. Generasi haus pujian

Para milenial
Konon katanya ciri generasi milenial adalah foto dulu sebelum makan.

Beberapa hari lalu Saya mendapatkan pelatihan seminar bagaimana membina hubungan yang baik dengan bawahan.  Di salah satu bagian presentasi dari pelatihnya, Dia membahas tentang bagaimana karakteristik dan cara menangani kaum milenial. Anehnya, Saya juga kaum milenial dan pemuja santan,ahahhaha. #SopKakiKambingBetawi #Rendang #Tunjang #Kolak

Kata si Ibu pelatih, generasi milenial itu “Instagratification”(gini gak sih nulisnya?).

Artinya mereka mengharapkan pujian yang instan sebagai bukti diri mereka di hargai dan di akui keberadaannya. Hal ini berakar dari kurangnya pujian dan interaksi dari orang tua mereka (generasi X). Dimana generasi X sibuk kerja kantoran, waktu dan tenaga habis untuk bekerja. Sehingga minim sekali waktu dan tenaga untuk anak-anaknya. Ketemu aja jarang, gimana memuji? Pasti lebih jarang lagi .Anak-anak ini sekarang menjadi generasi Milenial ato generasi Y.

Haus pujian yang instan ini terbukti dari perilaku generasi milenial yang suka pamer.Pamer dengan harapan mendapatkan pujian dan perhatian dari teman-teman atau orang lain. Pamer foto dan video demi mendapatkan “Like” dan komentar secara cepat.  Jumlah “like” dan “Follower” pun menjadi mata uang tersendiri bagi pembuktian eksistensi diri mereka.

“Gile juga ini ibu pelatih. Dalem juga elmunya” kata gue di dalem hati. (Ya iya lah, itu kerjaan dia)

Sebagai pemimpin yang memilki junior atau bawahan generasi milenial, maka si Ibu pelatih pun menganjurkan untuk memberikan “Instagratification”. Kalau ada yang jelek langsung di omongin. kalau ada yang bagus langsung di puji dan di pujinya kalau bisa di depan umum. Kayak di sosmed aja dimana jumlah “like” dan komen terlihat di depan umum.

490. Beralih ke Medium?

Beralih ke Medium?
Tampilan Medium dot com

Medium dot com adalah media untuk menulis layaknya WordPress namun, lebih ke kinian. Ibarat Facebook dengan Snapchat lah,ahahaha~

Medium sendiri sudah ada dari 4 tahun yang lalu, Saya juga sudah memiliki akun nya  ( buat ngambil domain duluan,hehhe) tapi, Medium Saya gak ada isinya.

Medium punya UX design yang jauh lebih baik, lebih sederhana dan lebih aktif komunitasnya di bandingkan wordpress. Sudah banyak teman-teman Saya dari yang biasanya menulis di wordpress atau pun gak pernah menulis mulai mempublikasikan ide-ide dan gagasannya di Medium. Medium juga sepertinya sumber mencari ilmu sih dan promosi juga.

Perusahaan-perusahaan seperti Uber, Facebook, Traveloka, Salestock, Go-jek mulai menulis berbagai artikel tentang desain di Mediumnya. Tim Desain merekalah yang mengisi konten disana dan secara aktif membalas komen-komen serta pertanyaan yang ada. Nah, kembali ke topik utama tulisan ini;

Perlu gak sih Saya menulis di Medium dan meninggalkan WordPress ini?

Sampai saat ini sih Saya belum menemukan alasan yang kuat mengapa harus pindah ke Medium yah? Mengurus dua media menulis juga pastinya memakan waktu dan tenaga juga. Kalau kalian sendiri kira-kira mengapa mulai menulis di Medium?

487. UX design: 3 Alasan utama pengguna ‘share’ konten

Di suatu siang yang terik, Saya berada di Hotel Kuningan dan mendengarkan presentasi dari perwakilan Facebook. Facebook yang sudah canggih ini ternyata menemukan 3 alasan utama orang membagikan konten ke Facebook. Hal ini juga bisa di tiru aplikasi Anda. Yang perlu dilakukan adalah mendorong 3 alasan ini di dalam aplikasi.

  1. Pengguna ‘share’ karena ingin mengekspresikan diri:
    Seperti postingan Saya sebelumnya; bagaimanapun manusia ingin diakui eksistensinya. Cara terbaik untuk diakui adalah mengekspresikan diri. Contohnya”Gue tuh gini loh! suka main gitar, suka musik Emo, dan suka koding. Pendukung pasangan no.88″. Baik itu tentang hal yang pengguna sukai atau tidak. Baik itu konten yang membuat senang, prihatin atau benci, akan mereka bagikan untuk mengekspresikan respon diri mereka terhadap konten tersebut.
  2. Pengguna ‘share’ karena ingin menjaga hubungan:
    Rasa nostalgia adalah hal yang dimanfaatkan Facebook agar pengguna kembali ke facebook dan membagikan kenangan tersebut ke teman-temannya. Adanya foto-foto kenangan menjadi alasan pengguna untuk menghubungi teman lamanya kembali. kalau ga ada foto bingung juga mau ngomongin apa?hehehe,Menjaga hubungan ini bisa juga dengan cara sesederhana chatting antar teman.
  3. Pengguna ‘share’ karena ingin membantu orang lain:
    Membantu orang lain memberikan kepuasan tersendiri bagi pengguna. Bisa berguna bagi ornag lain adalah salah satu tingkat tertinggi dimana manusia di akui eksistensinya. Banyak pengguna facebook membagikan berita, barang dagangan di toko online, video, dan berbagai hal lainnya karena ingin membantu orang lain.

    Misalnya si A lagi bingung beli rumah. Si A memberi tahu si B. Kebetulan saat si B lagi main internet dia melihat ada rumah mura di bekasi. Di B pun terdorong untuk membagikan konten tersebut ke sosial media yang ditujukan kepada si A. Beda halnya apabila si B mencari rumah untuk dirinya sendiri maka, dia tidak akan membagikannya ke sosial media.

Nah, itulah 3 alasan utama kenapa pengguna membagikan konten ke aplikasi Anda. Apabila ke tiga hal ini di manfaat kan secara benar maka hasil yang didapat adalah pengguna yang aktif untuk produk Anda. Selamat mencoba!